Angkat Tema Cinta, Prodi PAI Hadirkan Narasumber USA dalam Seminar "Transforming The Power of Love in Education"
Media Center FTIK - Program studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember kembali menegaskan komitmennya dalam pembangunan karakter mahasiswa melalui acara seminar internasional. Tema acaranya ialah "Transforming the Power of Love in Education". Kegiatan ini berlangsung secara hybrid pada hari Jum'at tanggal 17 Oktober 2025, di mana 80 peserta hadir di ruang rapat lantai 2 FTIK, sementara itu nyaris 300 orang peserta bergabung secara live melalui Zoom Meeting.
Acara ini menampilkan Jim Baton dari USA sebagai Keynote Speaker. Jim Baton merupakan praktisi yang aktif sebagai trainer di berbagai pelatihan bagi tenaga pendidik. Ia juga merupakan penulis buku tentang metodologi pengajaran dan enam buku novel yang telah memenangkan beberapa penghargaan di Amerika Serikat. Jim juga aktif dalam acara-acara antaragama dan perdamaian.
Sebagai narasumber kedua, yakni Dr. Muqowim, M.Ag., yang merupakan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain dosen Ia juga aktif sebagai accredited Trainer di Living Values Education, Pengasuh Rumah Kearifan, aktif menjadi konsultan pendidikan di berbagai lembaga pendidikan mulai dari jenjang PAUD sampai Perguruan Tinggi, serta tergabung dalam Dewan Pakar Forum Pendidik Madrasah Inklusif Yogyakarta.
Koordinator Prodi PAI, Dr. Hj. Fathiyaturrahmah, M.Ag., dalam sambutannya menuturkan bahwa acara ini bertujuan memberikan pemahaman sekaligus pengalaman kepada mahasiswa prodi PAI terkait bagaimana menanamkan pola pikir sebagai seorang calon pendidik. Menurutnya, tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga mentransfer cinta dan kasih sayang kepada anak didiknya. Oleh karena itulah kegiatan ini diinisiasi dengan menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya, dengan harapan mahasiswa bisa belajar hal-hal baru terutama tentang penerapan pembelajaran yang berbasis cinta.
Sementara itu Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Dr. H. Abdul Mu'is, S.Ag., M.Si., dalam sambutannya menyebut tentang pentingnya membangun hubungan harmonis antara guru dan murid. "Tugas kita adalah bagaimana agar proses pembelajaran tidak sebatas pada transformasi ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga bagaimana agar pembelajaran dipenuhi oleh rasa cinta. Dengan demikian pendidikan akan memberi dampak pada terbentuknya karakter yang baik pada diri anak. Ini tentu bukan tugas yang mudah, namun perlu menjadi tanggung jawab bersama agar bisa terwujud", ujarnya.
Jim Baton memulai pemaparannya dengan berbagi pengetahuannya tentang cara memandang orang lain dengan cinta kasih meskipun memiliki banyak perbedaan. Ia juga mengajak audiens untuk menempatkan sudut pandang yang berbeda sebagai guru dalam melihat anak didiknya. Tak hanya di situ, Jim Baton sempat beberapa kali menceritakan pengalaman-pengalaman menariknya dalam menghadapi siswa yang bermasalah dengan pendekatan cinta.
Menurutnya, yang paling berdampak pada keberhasilan siswa dalam belajar bukanlah pengalaman guru, bukan latar belakang pendidikannya, dan bukan seberapa besar jumlah murid di kelas. Tetapi yang paling berdampak ialah hubungan antara guru dengan muridnya. "Students with academic or behavioral problems showed dramatic improvement when in classrooms with emotionally supportive teachers", demikian petikan materi yang disampaikan.
Selaras dengannya, Dr. Muqowim dalam presentasinya mengutip makna sejati dari cinta, yang di dalamnya meliputi 5 hal penting, yakni pleasure in giving (perasaan bahagia kala memberi), forgiving (memaafkan), serving (melayani), caring (peduli), dan sacrifying (kemauan berkorban). "Cinta dapat membangun hubungan yang kuat dan saling percaya antara guru dan muridnya, pada gilirannya menciptakan lingkungan belajar yang aman. Suasana pendidikan yang aman dan penuh kasih sayang akan dapat meningkatkan kesejahteraan emosional, serta memungkinkan siswa untuk berkembang secara akademis maupun sosial" lanjutnya.
Penulis: Evi R. Dianita
Editor dan Foto: A. Barocky Zaimina




