homescontents betvoy gaziantep escort görükle escort bursa escort bayan escort kayseri escort alanya istanbul escort grandpashabet https://kayserimod.com/ yabanci dizi izle
homescontents
ftik@uinkhas.ac.id (0331) 487550

FTIK UIN KHAS Jember Buka NGOPI Ketujuh di Banyuwangi, Soroti Urgensi Literasi dan Etika Digital di Pesantren

Home >Berita >FTIK UIN KHAS Jember Buka NGOPI Ketujuh di Banyuwangi, Soroti Urgensi Literasi dan Etika Digital di Pesantren
Diposting : Kamis, 23 Oct 2025, 15:15:07 | Dilihat : 200 kali
FTIK UIN KHAS Jember Buka NGOPI Ketujuh di Banyuwangi, Soroti Urgensi Literasi dan Etika Digital di Pesantren


Media Center FTIK - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN KHAS Jember kembali menegaskan komitmennya dalam mengawal kemajuan pendidikan Islam melalui kegiatan bertajuk “Ngopi (Ngobrol Pendidikan Islam) Santri dan Pesantren Digital: Kolaborasi Ilmu, Teknologi, dan Akhlaq”. Acara yang dikemas dalam bentuk Seminar Nasional ini diselenggarakan di Aula Hotel Kokoon Banyuwangi pada Selasa (22/10) pukul 08.00–11.45 WIB, dihadiri lebih dari 200 peserta dari unsur santri, kiai, pengelola pesantren, ustadz, ustadzah, hingga praktisi pendidikan Islam se-Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Kementerian Agama RI kepada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk aktif mendampingi pesantren dalam menghadapi era digitalisasi. FTIK UIN KHAS Jember tampil sebagai representasi akademik dalam memperkuat kolaborasi ilmu, teknologi, dan akhlaq, bekerja sama dengan Komisi VIII DPR RI yang diwakili oleh Ibu Ina Ammania, lembaga yang memiliki mandat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan anggaran berbasis kebutuhan institusi pesantren, termasuk infrastruktur dan sarana prasarana digital.

Acara dibuka dengan penuh khidmat oleh MC sekaligus Moderator, Evi Resti Dianita, M.Pd.,. Dalam pembukaan, ia menekankan pentingnya forum Ngopi ini sebagai ruang dialektika antara tradisi pesantren dan inovasi digital. Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar soal perangkat, tetapi juga paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan Islam yang adaptif dan beretika. Sambutan pertama disampaikan oleh Dr. H. Mohammad Jali, M.Pd.,. Dalam sambutannya, beliau menyoroti urgensi literasi digital di lingkungan pesantren sebagai keniscayaan zaman. “Pesantren telah lama menjadi pusat peradaban ilmu dan moral. Namun, tantangan kini berbeda. Dunia digital menuntut pesantren tidak hanya menjadi penjaga akhlaq, tetapi juga produsen pengetahuan yang mampu bersaing secara global,” tegas Dr. Jali. Ia menambahkan, “Data Kemenag menunjukkan bahwa 68% pesantren di Indonesia belum memiliki sistem digitalisasi administrasi dan pembelajaran yang terintegrasi. Maka, tugas akademisi dan praktisi adalah menjembatani kesenjangan ini dengan kebijakan dan pendampingan yang sistematis.”

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. H. Abdul Mu’is, S.Ag, M.Si., Dekan FTIK UIN KHAS Jember, yang menyoroti aspek kolaboratif antara ilmu dan teknologi dengan fondasi akhlaq. “Teknologi tanpa akhlaq hanya akan melahirkan kekeringan spiritual. Tetapi akhlaq tanpa teknologi juga akan tertinggal dari arus zaman. FTIK UIN KHAS Jember hadir untuk memastikan keduanya berjalan beriringan melalui riset, kurikulum, dan pelatihan berbasis pesantren digital,” jelasnya. Beliau menambahkan bahwa kegiatan Ngopi ini diharapkan menjadi model sinergi antara akademisi, praktisi, dan pemerintah dalam menguatkan ekosistem pendidikan Islam yang berdaya saing tinggi. Dalam sambutannya, Dr. Mu’is juga mengemukakan berbagai fakta dan tantangan yang dihadapi pesantren di era digital. Berdasarkan data Kementerian Agama dan hasil observasi lapangan, hanya sekitar 40–45% pesantren di Indonesia yang memiliki akses internet memadai, sementara lebih dari 70% santri aktif menggunakan media sosial tanpa bimbingan literasi digital yang memadai. Di sisi lain, kapasitas para ustadz dan ustadzah dalam penggunaan teknologi pembelajaran masih tergolong rendah; sebagian besar masih berfokus pada metode konvensional tanpa dukungan perangkat dan pelatihan TIK yang terstruktur. Banyak pesantren juga belum memiliki sistem manajemen digital, baik dalam aspek kurikulum, keuangan, maupun administrasi kelembagaan, sehingga kesiapannya menghadapi digitalisasi belum merata. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan anggaran, lokasi pesantren yang terpencil, dan belum adanya kebijakan pendampingan berkelanjutan dalam peningkatan kapasitas SDM. “Inilah mengapa literasi digital tidak cukup diajarkan sebagai kemampuan teknis, tetapi harus diintegrasikan dengan nilai moral dan spiritual. Pesantren harus menjadi pelopor ekosistem digital yang beretika, produktif, dan berkarakter Islam,” tegasnya. Dalam kesempatan yang sama, Dr. H. Mu’is,  juga sekaligus membuka secara resmi kegiatan Seminar Nasional “Ngopi Santri dan Pesantren Digital”, yang ditandai dengan ketukan palu dan ucapan bismillahirrahmanirrahim sebagai simbol dimulainya forum akademik penuh makna tersebut. Pembukaan resmi ini disambut antusias oleh seluruh peserta yang hadir, menandai awal dialog produktif tentang integrasi nilai keislaman dengan kemajuan teknologi.

Memasuki sesi utama, seminar nasional menghadirkan dua pemateri yang berpengaruh di bidangnya. Pemateri pertama, Ibu Ina Ammania, Anggota DPR RI Komisi VIII, menyampaikan pandangan strategis terkait kebijakan digitalisasi pesantren. “Digitalisasi pesantren bukan sekadar proyek teknologi, tetapi gerakan kebudayaan yang menuntut perubahan cara berpikir, belajar, dan mengajar,” jelasnya. Ia memaparkan data hasil riset Komisi VIII DPR RI yang menunjukkan bahwa 42% pesantren di Indonesia masih terkendala pada aspek jaringan internet dan 57% belum memiliki SDM teknologi yang memadai. “Kami di Komisi VIII berkomitmen memperjuangkan kebijakan berbasis kebutuhan riil pesantren, mulai dari pelatihan digital literacy, dukungan perangkat TIK, hingga integrasi sistem informasi pendidikan Islam nasional. Harapan kami, kebijakan pasca kegiatan ini dapat mendorong terbentuknya Pesantren Digital Hub sebagai pusat inovasi dan riset berbasis nilai-nilai Islam,” tambahnya dengan optimis.

Pemateri kedua, Kiai H. Achmad Musholin, M.Pd.I., Ketua MWC NU Kota Banyuwangi, mengulas dimensi spiritual dan sosial dari kolaborasi pesantren dan teknologi. “Pesantren sejatinya sudah lama menjadi digital dalam makna spiritual merekam ilmu melalui sanad, teks, dan praktik. Namun kini digitalisasi menuntut adaptasi teknologis agar nilai-nilai keislaman bisa disebarkan lebih luas tanpa kehilangan ruhnya,” ujarnya dengan nada reflektif. Beliau menyoroti fenomena disrupsi moral akibat media digital dan menyerukan agar santri menjadi influencer akhlaq. “Kita harus menyiapkan santri yang bukan hanya melek digital, tapi juga beradab digital. Tantangan terbesar adalah bagaimana pesantren dapat menginternalisasi nilai-nilai tasawuf dan etika Islam dalam dunia siber,” pungkasnya.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan doa bersama dan sesi foto peserta. Atmosfer intelektual dan spiritual terasa kuat, menunjukkan keseriusan para peserta dalam membangun kesadaran baru tentang pendidikan Islam di era digital. Dekan FTIK UIN KHAS Jember dalam penutupannya menegaskan bahwa hasil kegiatan ini akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan internal fakultas untuk memperkuat program Pesantren Digital Partnership yang terintegrasi dengan roadmap penelitian dan pengabdian masyarakat FTIK. Acara “Ngopi Santri dan Pesantren Digital” menjadi momentum penting bagi FTIK UIN KHAS Jember dalam menegaskan peran strategisnya: bukan hanya sebagai lembaga akademik, tetapi sebagai mitra transformasi pendidikan Islam yang berakar pada ilmu, bertumbuh melalui teknologi, dan berorientasi pada akhlak.

Penulis: A. Barocky Zaimina
Editor: Evi R. DIanita

;