FTIK UIN KHAS Jember Gelar Seminar Peningkatan Mutu Pengawas dan Kepala Madrasah di Era Digital
Media Center FTIK - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat mutu pendidikan Islam di era digital. Melalui kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia ,serta dukungan Komisi VIII DPR RI, FTIK menggelar seminar bertajuk Peningkatan Mutu Pengawas dan Kepala Madrasah di Era Digital.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu pagi, 27 September 2025, mulai pukul 08.00–12.00 di Hotel Aston Banyuwangi ini diikuti oleh 200 peserta yang terdiri dari pengawas, kepala sekolah, serta guru PAI dari madrasah swasta MI, MTs, dan MA se-Kabupaten Banyuwangi. Kehadiran ratusan peserta ini menandai besarnya antusiasme insan pendidikan madrasah dalam menyiapkan diri menghadapi tantangan transformasi digital. Hadir pula dalam acara ini Wakil Dekan 1 dan 2 FTIK dan Kepala Bagian Tata Usaha FTIK.
Dalam sambutannya, Dekan FTIK UIN KHAS Jember sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. H. Abd Mu’is, M.Si, menekankan pentingnya sinergi pengawas, kepala madrasah, dan guru PAI dalam menghadapi era digitalisasi. “Digitalisasi bukan sekadar alat bantu belajar, melainkan tantangan yang mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara berinteraksi. Karena itu, peningkatan kompetensi pengawas dan kepala madrasah harus diarahkan pada penguatan visi, akhlak, dan kepemimpinan transformatif. Madrasah yang unggul adalah madrasah yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai spiritual Islam,” tegasnya.
Seminar berlangsung dengan menghadirkan Ibu Ina Ammaniah, anggota Komisi VIII DPR RI, sebagai pembicara utama, yang dipandu oleh A. Barocky Zaimina, M.Pd.I, sebagai moderator. Dalam paparannya, Ina Ammaniah menegaskan bahwa Komisi VIII berkomitmen untuk memperjuangkan program-program strategis dalam pengembangan madrasah dan pesantren. “Madrasah tidak boleh menjadi penonton di era digital. Negara, melalui dukungan kebijakan DPR, memastikan madrasah dan pesantren tetap menjadi pusat peradaban Islam yang berdaya saing global, tanpa kehilangan akar nilai-nilai moral dan spiritual,” ungkapnya.
Narasumber kedua, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Bambang Harwono, M.Pd, menguraikan secara rinci pentingnya penguatan kompetensi di tiga level utama: guru PAI, pengawas, dan kepala madrasah. Menurutnya, kompetensi di era digital menuntut lebih dari sekadar keterampilan teknis. Guru PAI harus menguasai empat kompetensi utama pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial dengan sentuhan digitalisasi agar pembelajaran lebih kontekstual dan relevan. Pengawas madrasah dituntut memiliki keterampilan supervisi yang adaptif berbasis data digital, sementara kepala madrasah perlu mengembangkan kepemimpinan manajerial yang responsif terhadap perubahan zaman.
Lebih lanjut, Bambang menekankan bahwa digitalisasi pendidikan menghadirkan pengaruh yang faktual dan aktual: mempercepat akses pengetahuan, membuka ruang kolaborasi, sekaligus membawa risiko dehumanisasi jika guru kehilangan peran spiritualnya. “Kelebihan era digital ada pada kecepatan, keterbukaan, dan konektivitas. Namun kekurangannya adalah potensi melemahkan interaksi personal dan spiritual. Karena itu, guru, pengawas, dan kepala madrasah harus memegang tanggung jawab moral untuk memastikan pendidikan tetap berpijak pada nilai iman dan akhlak. Harapannya, madrasah mampu menghadirkan generasi yang cerdas digital sekaligus kokoh spiritual,” paparnya.
Seorang peserta, Hj. Siti Rahayu, M.Pd.I, pengawas madrasah asal Rogojampi, menyampaikan kesannya usai mengikuti kegiatan ini. “Seminar ini sangat mencerahkan. Kami tidak hanya mendapat pengetahuan tentang digitalisasi, tetapi juga diingatkan kembali bahwa akhlak dan kepemimpinan spiritual tetap harus menjadi ruh madrasah. Kami pulang dengan semangat baru untuk menyeimbangkan teknologi dan nilai,” ujarnya.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, FTIK UIN KHAS Jember menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan pendidikan Islam yang progresif dan berkarakter. Sinergi akademisi, pemerintah, dan legislatif diharapkan mampu mempercepat langkah transformasi madrasah agar tetap relevan, unggul, dan menjadi garda terdepan pendidikan Islam di Indonesia.
Penuils: A. Barocky Zaimina
Editor: Evi R. Dianita




