Hadirkan Dr. Bahrissalim, FTIK UIN KHAS Jember Revitalisasi Mutu Perkuliahan Microteaching Guna Perkuat Kesiapan Calon Guru
Media Center FTIK - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember menggelar kegiatan Refreshment bagi Dosen Pengampu Mata Kuliah Microteaching Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 9 Februari 2026, bertempat di Ruang Rapat Utama Lantai 2 Gedung FTIK, sebagai upaya strategis meningkatkan kualitas lulusan sebelum terjun ke lembaga pendidikan.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, termasuk Dekan FTIK, Wakil Dekan 1, serta 42 dosen pengampu mata kuliah microteaching di lingkungan FTIK.
Microteaching Sebagai Jembatan Teori dan Praktik
Wakil Dekan 1 FTIK, Dr. H. Khotibul Umam, M.A., saat membuka acara menekankan bahwa microteaching bukan sekadar latihan mengajar biasa. Menurutnya, mata kuliah ini adalah media krusial untuk mengintegrasikan konsep, teori, dan materi pedagogik yang telah dipelajari mahasiswa ke dalam praktik nyata.
"Fungsi strategis microteaching adalah mengasah teaching skills mahasiswa—mulai dari cara membuka pelajaran, mengelola kelas, hingga melakukan penilaian—agar saat diterjunkan ke sekolah, mereka sudah siap secara kompetensi maupun mental. Kami ingin menyamakan persepsi agar dosen lebih fokus pada praktik mengajar daripada sekadar teori," tegas Dr. Khotibul Umam.
Evaluasi dari Lapangan: Kaitan Erat Microteaching dan PLP
Senada dengan hal tersebut, Ketua Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa, Dr. Nuruddin, M.Pd.I, memaparkan hasil monitoring pelaksanaan Pengenalan Lapangan Pendidikan (PLP) di berbagai sekolah dan madrasah mitra. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah dan guru pamong, ditemukan beberapa kendala klasik pada mahasiswa, seperti kesulitan menyusun modul ajar, rendahnya kepercayaan diri, serta kualitas mengajar yang perlu ditingkatkan.
"Setelah kami telusuri, akar masalahnya bermuara pada pelaksanaan microteaching yang kurang efektif di tahun-tahun sebelumnya," ungkap Dr. Nuruddin. Ia pun memberikan tiga rekomendasi utama bagi para dosen pengampu:
-
Wajib memberikan panduan penyusunan modul ajar secara intensif.
-
Mahasiswa wajib melakukan praktik mengajar minimal 3 kali.
-
Dosen harus mendampingi langsung dan memberikan umpan balik (feedback) yang produktif setelah praktik selesai.
Menuju Laboratorium Pedagogik Berbasis Kurikulum
Puncak acara diisi dengan pemaparan materi oleh Dr. Bahrissalim, M.Ag., yang menyoroti isu-isu kritis dalam pembelajaran microteaching saat ini. Beliau mengkritisi kecenderungan microteaching yang selama ini hanya fokus pada penampilan fisik mengajar (performance), namun abai terhadap pengambilan keputusan pedagogis (pedagogical decision-making).
"Seringkali praktik microteaching terlepas dari kurikulum nyata. Penilaian masih dominan subjektif dan refleksi yang dilakukan mahasiswa cenderung dangkal," jelasnya. Dr. Bahrissalim mendorong agar microteaching dikembalikan fungsinya sebagai laboratorium pedagogik berbasis kurikulum. Di tempat inilah mahasiswa seharusnya menguji desain pembelajaran mereka dan merefleksikan keterkaitan antara kurikulum, proses pembelajaran, dan asesmen secara mendalam.
Kegiatan refreshment ini diharapkan mampu melahirkan semangat baru bagi para dosen untuk mengawal mata kuliah microteaching secara lebih disiplin dan terukur, sehingga mahasiswa FTIK UIN KHAS Jember benar-benar siap menjadi guru profesional yang adaptif terhadap dinamika di sekolah.
(Evi Resti Dianita/Tim Data dan Informasi)



