homescontents betvoy gaziantep escort görükle escort bursa escort bayan escort kayseri escort alanya istanbul escort grandpashabet https://kayserimod.com/ yabanci dizi izle
homescontents
ftik@uinkhas.ac.id (0331) 487550

Madrasah Harus Jadi Ruang Pembentukan Jiwa, NGOPI FTIK UIN KHAS Jember ke-19 Urai Modal Spiritual, Intelektual, dan Sosial Guru

Home >Berita >Madrasah Harus Jadi Ruang Pembentukan Jiwa, NGOPI FTIK UIN KHAS Jember ke-19 Urai Modal Spiritual, Intelektual, dan Sosial Guru
Diposting : Senin, 03 Nov 2025, 08:59:36 | Dilihat : 147 kali
Madrasah Harus Jadi Ruang Pembentukan Jiwa, NGOPI FTIK UIN KHAS Jember ke-19 Urai Modal Spiritual, Intelektual, dan Sosial Guru


Media Center FTIK - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN KHAS Jember kembali menggelar kegiatan Ngobrol Pendidikan Agama Islam (NGOPI) bertajuk “Peningkatan Mutu Pendidikan Karakter Peserta Didik di Lembaga Pendidikan Islam.” Kegiatan ini merupakan lanjutan dari seri NGOPI sebelumnya dan diselenggarakan di Hotel Ijen View Bondowoso pada Rabu, 29 Oktober 2025, pukul 13.00 hingga 16.30 WIB. Acara ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta yang berasal dari berbagai unsur lembaga pendidikan Islam, di antaranya Ketua Yayasan Pondok Pesantren, Kepala Madrasah, Wakil Kepala Bidang Kurikulum, dan Guru Madrasah se-Kabupaten Bondowoso.

Kegiatan dipandu oleh Evi Resti Dianita, M.Pd.I., yang berperan sebagai MC sekaligus moderator seminar. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan sambutan serta pembukaan resmi oleh Dekan FTIK UIN KHAS Jember, Dr. H. Abdul Mu‘is, S.Ag., M.S.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Anggota Komisi VIII DPR RI, Ibu Ina Ammania, atas dukungan dan kontribusinya terhadap terselenggaranya kegiatan NGOPI kali ini. Beliau juga memberikan penghargaan kepada narasumber tamu, Dr. Bachtiar Rifa‘i, S.Ag., M.Pd., selaku Dosen Institut Agama Islam At Taqwa Bondowoso, yang turut memberikan perspektif akademik dalam diskusi tersebut. Dr. Abdul Mu‘is menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan karakter merupakan mandat moral dan akademik yang wajib diemban oleh setiap pendidik madrasah. Menurutnya, guru madrasah bukan sekadar penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentuk karakter, kepribadian, dan akhlak peserta didik. “Guru madrasah adalah agen transformasi nilai. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi membentuk kepribadian dan akhlak peserta didik. Pendidikan karakter adalah inti dari proses pendidikan Islam, karena membentuk insan berilmu dan beradab jauh lebih penting daripada sekadar mencetak lulusan yang cerdas secara kognitif,” ujarnya.

Beliau juga menyoroti pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan tinggi Islam, pesantren, dan madrasah dalam merancang kurikulum pendidikan karakter yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Kerja sama lintas kelembagaan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas guru, kesejahteraan ustaz, dan penguatan nilai-nilai moral peserta didik agar menjadi generasi yang berakhlak mulia dan berdaya saing tinggi. “Kerja sama lintas kelembagaan ini akan membawa dampak positif bagi peningkatan kualitas guru, kesejahteraan ustaz, serta pembinaan moral peserta didik agar menjadi generasi berakhlak mulia dan berdaya saing,” tambahnya.

Narasumber tamu, Dr. Bachtiar Rifa‘i, S.Ag., M.Pd., dalam paparannya menjelaskan secara mendalam mengenai peran strategis guru madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan karakter peserta didik. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter di lembaga Islam harus bersifat integratif, yakni memadukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan nilai-nilai spiritualitas Islam. Menurutnya, peluang untuk meningkatkan mutu karakter peserta didik di era modern ini sangat besar, seiring dengan dukungan regulasi, kemajuan teknologi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan berbasis nilai. Namun, tantangannya juga tidak ringan, seperti lemahnya keteladanan guru, keterbatasan sarana pembelajaran karakter, serta pengaruh negatif media digital terhadap perilaku generasi muda.

Dr. Bachtiar menegaskan bahwa guru madrasah harus memiliki tiga modal utama dalam meningkatkan mutu pendidikan karakter, yaitu modal spiritual berupa keimanan dan ketakwaan yang menjadi sumber keteladanan moral; modal intelektual berupa kemampuan memahami psikologi peserta didik dan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam mata pelajaran; serta modal sosial dan kultural berupa kemampuan berkomunikasi, berempati, dan beradaptasi dengan lingkungan sosial peserta didik. Ia juga menguraikan empat landasan teoritik pendidikan karakter, yakni landasan yuridis yang berakar pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; landasan filosofis yang menempatkan manusia sebagai makhluk berakal dan bermoral; landasan empiris yang menekankan pentingnya pembiasaan dan keteladanan; serta landasan fenomenologis yang memandang pembentukan karakter sebagai proses reflektif dan kontekstual. “Madrasah harus menjadi ruang pembentukan jiwa, bukan sekadar ruang transmisi pengetahuan,” pungkasnya.

Sementara itu, narasumber utama, Ibu Ina Ammania selaku Anggota Komisi VIII DPR RI, menyoroti peran strategis pemerintah dan lembaga legislatif dalam memperkuat eksistensi lembaga pendidikan Islam, khususnya madrasah dan pesantren. Ia menjelaskan bahwa Komisi VIII DPR RI memiliki peran konstitusional di bidang sosial, keagamaan, dan pendidikan keagamaan, termasuk memperjuangkan kesejahteraan guru madrasah dan peningkatan mutu lembaga pendidikan Islam. “Kami di DPR RI berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan dan anggaran yang berpihak kepada pendidikan Islam. Guru madrasah adalah pilar bangsa yang membentuk karakter generasi penerus; maka negara harus hadir dalam memberikan dukungan yang konkret,” tegasnya.

Ina Ammania menambahkan bahwa tanggung jawab wakil rakyat tidak berhenti pada penyusunan undang-undang, tetapi juga dalam memastikan kebijakan pendidikan berjalan secara adil dan inklusif. Ke depan, ia menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan peningkatan alokasi anggaran pendidikan Islam, bantuan sarana prasarana madrasah, serta program peningkatan kapasitas guru dan tenaga pendidik. Selain itu, Komisi VIII DPR RI juga akan memperkuat sinergi dengan Kementerian Agama RI dan perguruan tinggi keagamaan, termasuk UIN KHAS Jember, untuk memastikan pelaksanaan kebijakan pendidikan karakter yang efektif di lapangan. “Sinergi antara lembaga legislatif, akademisi, dan praktisi pendidikan Islam adalah kunci dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga berakhlak dan berkarakter kebangsaan yang kuat,” ujarnya.

Kegiatan NGOPI FTIK UIN KHAS Jember kali ini menjadi ruang refleksi akademik sekaligus forum kolaboratif lintas sektor dalam memperkuat pendidikan karakter di lembaga pendidikan Islam. Melalui kegiatan ini, FTIK UIN KHAS Jember menunjukkan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan ekosistem pendidikan Islam yang berintegritas, berorientasi pada nilai, dan berkelanjutan. Dengan semangat sinergi antara dunia akademik, legislatif, dan praktisi pendidikan, kegiatan NGOPI tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah strategis dalam membangun sistem pendidikan Islam yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.

Penulis: A. Barocky Zaimina
Editor: Evi R. Dianita

;