Manfaatkan Kecerdasan Buatan, Kuliah Tamu Tadris IPA Kupas Tuntas AI untuk Pembelajaran Sains
Media Center FTIK - Pada hari Selasa, tanggal 14 Oktober 2025, Aula Perpustakaan UIN KHAS Jember menjadi tempat berlangsungnya kuliah tamu bertema “Pemanfaatan AI untuk Pembelajaran IPA.” Kegiatan yang diikuti sekitar 90 mahasiswa semester 3 program studi tadris IPA ini menghadirkan semangat baru untuk memahami dan mengkritisi bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat mengubah wajah pembelajaran sains di era modern.
Korprodi Tadris IPA, Dinar Maftukh Fajar, S.Pd., M.P.Fis., dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapan calon pendidik menghadapi era digital yang dinamis. “Mahasiswa calon guru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, bukan sekadar sebagai pengguna, tetapi sebagai pengembang dan inovator pembelajaran,” ujarnya dengan penuh optimisme.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan I FTIK, Dr. Khotibul Umam, M.A., yang memberikan pandangan kritis tentang posisi AI dalam pendidikan. “Kecerdasan buatan adalah peluang sekaligus ujian. Kelebihannya luar biasa, tetapi kita juga harus waspada terhadap potensi dehumanisasi pendidikan. Jangan sampai AI menggantikan empati dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti pembelajaran,” ungkapnya penuh makna.
Materi disampaikan oleh Dr. Sabar Nurohman, M.Pd., Koordinator S2 Prodi Pendidikan IPA Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam paparannya yang mendalam, beliau menguraikan kelebihan AI seperti kemampuan analisis data besar (big data), adaptasi terhadap kebutuhan belajar siswa, dan efisiensi waktu dalam evaluasi pembelajaran. “AI mampu mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dengan cepat dan memberikan solusi yang sesuai. Ini menjadikan pembelajaran lebih efektif dan terarah,” jelasnya.
Namun, Dr. Sabar juga menyoroti sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai. Menurutnya, masih banyak sekolah dan pendidik yang belum siap secara infrastruktur maupun literasi digital. “AI membutuhkan data yang valid, jaringan yang stabil, dan pemahaman etika digital yang kuat. Tanpa itu, penggunaannya justru bisa menimbulkan bias, kesenjangan, dan ketergantungan teknologi yang berlebihan,” tambahnya dengan nada kritis.
Kelemahan lain yang diungkapkan adalah keterbatasan AI dalam memahami konteks emosional siswa. “AI tidak bisa menggantikan peran guru dalam membangun karakter, empati, dan nilai moral. Teknologi hanyalah alat, bukan tujuan,” tegas Dr. Sabar sambil mengajak peserta untuk menempatkan AI secara proporsional dalam ekosistem pendidikan.
Harapan besar juga disampaikan kepada mahasiswa sebagai generasi penerus pendidik. “Kami berharap mahasiswa mampu menjadi agen perubahan yang cerdas secara digital namun tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. AI harus dimanfaatkan untuk memperkuat daya pikir ilmiah, bukan menggantikannya,” pesannya yang disambut tepuk tangan meriah.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Ihza Rizky Winedar, alumni Tadris IPA dan penerima Beasiswa BIB UNY, tersebut berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang menggugah. Para peserta tidak hanya mendapat wawasan teknis, tetapi juga refleksi filosofis tentang masa depan pendidikan di tengah arus AI.
Kuliah tamu ini diharapkan dapat menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kematangan moral dan intelektual. Sehingga kegiatan serupa dapat terus digalakkan agar calon pendidik mampu mengembangkan pembelajaran berbasis AI yang inovatif, etis, dan berorientasi pada kemanusiaan.
Penulis: A. Barocky Zaimina
Editor: Evi R. Dianita




