homescontents betvoy gaziantep escort görükle escort bursa escort bayan escort kayseri escort alanya istanbul escort grandpashabet https://kayserimod.com/ yabanci dizi izle
homescontents
ftik@uinkhas.ac.id (0331) 487550

NGOPI Kedelapan di Banyuwangi: Tegaskan Peran PTKIN Mendampingi Pesantren Menghadapi Era Digitalisasi

Home >Berita >NGOPI Kedelapan di Banyuwangi: Tegaskan Peran PTKIN Mendampingi Pesantren Menghadapi Era Digitalisasi
Diposting : Kamis, 23 Oct 2025, 15:16:32 | Dilihat : 179 kali
NGOPI Kedelapan di Banyuwangi: Tegaskan Peran PTKIN Mendampingi Pesantren Menghadapi Era Digitalisasi


Media Center FTIK - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN KHAS Jember kembali menegaskan perannya dalam mengawal transformasi pendidikan Islam melalui kegiatan “Ngopi (Ngobrol Pendidikan Islam) Santri dan Pesantren Digital: Kolaborasi Ilmu, Teknologi, dan Akhlak”, yang digelar di Aula Hotel Kokoon Banyuwangi pada Selasa (22/10/2025) pukul 13.00–16.45 WIB. Kegiatan yang dihadiri lebih dari 200 peserta dari kalangan santri, kiai, pengelola pesantren, akademisi, serta praktisi pendidikan Islam ini menjadi wadah reflektif dan kolaboratif dalam merespons tantangan digitalisasi di lingkungan pesantren.

Program ini diselenggarakan sebagai bentuk implementasi kebijakan Kementerian Agama yang menugaskan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk mendampingi pesantren dalam proses transformasi pendidikan berbasis digital. FTIK UIN KHAS Jember, melalui kolaborasinya dengan Komisi VIII DPR RI, menghadirkan Ibu Ina Ammania sebagai pemateri utama. Komisi VIII DPR RI sendiri memiliki peran strategis dalam merumuskan kebijakan dan anggaran berbasis kebutuhan kelembagaan pesantren, khususnya yang berkaitan dengan penguatan infrastruktur dan sarana digital.

Acara dimulai dengan penuh khidmat oleh Evi Resti Dianita, M.Pd., bertugas sebagai MC dan moderator. Dalam pengantarnya, Evi menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar diskusi intelektual, tetapi juga forum transformasi paradigma pendidikan Islam. “Dunia sedang berubah cepat, Pesantren harus berani melangkah ke ruang digital tanpa kehilangan ruh keislamannya. Di sinilah pentingnya keseimbangan antara akal, ilmu, dan akhlaq,” ujarnya dengan nada penuh inspirasi.

Sambutan pertama disampaikan oleh Dr. H. Mohammad Djali, M.Pd., Selaku Sekretaris TU Kemenag Banyuwangi. Dalam sambutannya, beliau menyoroti urgensi integrasi nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan pendidikan digital. “Kita sedang hidup di masa ketika algoritma menentukan arah informasi. Jika pesantren tidak hadir dalam ruang digital, maka nilai-nilai Islam akan dikalahkan oleh narasi yang tidak berpihak pada moralitas,” tegasnya. Berdasarkan hasil survei Kementerian Agama, lebih dari 60% tenaga pendidik pesantren belum familiar dengan platform pembelajaran digital, sedangkan sebagian besar pesantren di wilayah Tapal Kuda masih terkendala jaringan internet dan perangkat pembelajaran daring. “Keterbatasan ini bukan hambatan, melainkan titik tolak bagi kita untuk membangun sistem pembelajaran yang adaptif, inovatif, strategis dan tetap berakar pada nilai-nilai Qur’ani,” ujarnya. Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk menjadikan forum Ngopi ini sebagai laboratorium gagasan menuju pesantren masa depan yang unggul dalam literasi digital namun tetap kokoh secara spiritual.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. H. Abdul Mu’is, S.Ag, M.Si Dekan  FTIK UIN KHAS Jember, yang sekaligus membuka secara resmi kegiatan seminar nasional pada sesi kedua ini. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya transformasi nilai dalam digitalisasi pesantren. “Digitalisasi bukan sekadar urusan teknologi, tetapi juga soal cara berpikir. Dunia digital menuntut kecerdasan spiritual yang lebih kuat agar manusia tidak kehilangan arah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tantangan utama pesantren saat ini adalah kesiapan sumber daya manusia dan kelembagaan. Berdasarkan hasil riset kolaboratif FTIK UIN KHAS Jember dengan Kemenag tahun 2024, sekitar 72% ustaz dan ustazah pesantren masih mengandalkan metode ceramah tradisional, sementara akses terhadap pelatihan digital pedagogik masih sangat terbatas. “Kita tidak bisa membiarkan pesantren menjadi penonton di tengah revolusi digital. Sudah saatnya santri menjadi pelaku utama perubahan,” lanjutnya dengan penuh penekanan. Ia menutup sambutannya dengan doa dan ajakan untuk menjadikan forum ini sebagai momentum membangun “ekologi pendidikan Islam yang cerdas secara digital dan bermoral secara spiritual.”

Memasuki sesi seminar nasional, Ibu Ina Ammania, Anggota DPR RI Komisi VIII, tampil sebagai pemateri utama dengan materi bertajuk “Kebijakan Strategis dan Arah Transformasi Digital Pesantren di Indonesia.” Dalam paparannya, ia menggarisbawahi bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa, namun membutuhkan dukungan kebijakan yang terukur dan tepat sasaran. “Komisi VIII DPR RI menilai bahwa transformasi pesantren tidak bisa hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur. Kita perlu menanamkan mindset digital pada seluruh ekosistem pesantren dari santri, ustaz, hingga pengelola,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan data Komisi VIII, anggaran penguatan pesantren digital tahun 2025 meningkat sebesar 27% dibandingkan tahun sebelumnya, yang dialokasikan untuk pelatihan digital literacy, pengadaan perangkat IT, dan riset pendidikan Islam berbasis teknologi. “Harapan kami, UIN KHAS Jember melalui FTIK dapat menjadi centre of excellence bagi pengembangan pesantren digital di kawasan Tapal Kuda dan Madura,” tambahnya. Menurut Ina, arah kebijakan ke depan adalah menciptakan “ekosistem pesantren digital nasional” yang inklusif, berdaya saing, dan berbasis kemandirian lokal.

Pemateri kedua, Kiai H. Sunandi, M.Pd.I., Ketua PCNU Kota Banyuwangi, melengkapi perspektif dengan pendekatan religius dan sosial dalam materinya yang berjudul “Strategi Penguatan Ekosistem Pesantren di Era Digital: Antara Transformasi dan Kemandirian.” Dalam paparannya yang bernuansa kritis dan akademis, beliau menegaskan bahwa digitalisasi pesantren harus dibangun di atas pondasi kemandirian dan tata kelola kelembagaan yang kuat. “Pesantren tidak boleh hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi harus mampu menjadi inovator. Kita perlu membangun ekosistem digital pesantren yang berakar pada nilai-nilai lokal, namun berorientasi global,” ungkapnya. Kiai Sunandi menyoroti lemahnya kapasitas manajerial dan literasi data di sebagian besar pesantren. “Sebagian besar pesantren belum memiliki sistem database santri, manajemen keuangan berbasis digital, ataupun sistem administrasi akademik yang terintegrasi. Padahal, di era ini, data adalah kekuatan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pesantren harus berani bermitra dengan PTKIN dan pemerintah dalam riset-riset aplikatif, inovasi kurikulum, serta pengembangan startup santri berbasis sosial keagamaan. “Digitalisasi pesantren bukan hanya tentang teknologi, tapi juga tentang mindset baru: santri harus menjadi aktor ekonomi, inovator sosial, dan penjaga moralitas bangsa di ruang digital,” pungkasnya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto seluruh peserta. Suasana penuh kehangatan dan kolaborasi terasa menyelimuti aula Hotel Kokoon Banyuwangi sore itu. Melalui kegiatan Ngopi Santri dan Pesantren Digital, FTIK UIN KHAS Jember meneguhkan komitmennya untuk membangun gerakan literasi digital berbasis akhlaq, menjembatani nilai tradisi dan inovasi, serta menyiapkan generasi santri yang mampu berdiri teguh di antara dua dunia, dunia ilmu dan dunia teknologi.

Penulis: A. Barocky Zaimina
Editor: Evi R. Dianita

;