homescontents görükle escort bursa escort bayan ataşehir escort Проститутки Бишкек yabanci dizi izle gaziantep escort gaziantep escort ataşehir escort Проститутки Бишкек bodrum escort film seyret escort adıyaman escort afyon escort agrı escort aksaray escort amasya escort antalya escort ardahan escort artvin escort balıkesir escort bartın escort batman escort bayburt escort bilecik escort bingöl escort bitlis escort bolu escort burdur escort çanakkale escort çankırı escort çoeum escort denizli escort diyarbakır escort düzce escort edirne escort elazıg escort erzincan escort erzurum escort eskişehir escort gaziantep escort giresun escort gümüşhane escort hatay escort igdir escort ısparta escort izmir escort kahramanmaraş escort karabük escort karaman escort kars escort kastamonu escort kayseri escort kıbrıs escort kırklareli escort kırşehir escort kilis escort kocaeli escort konya escort kütahya escort malatya escort manisa escort mardin escort mersin escort mugla escort nevşehir escort nigde escort ordu escort osmaniye escort rize escort sakarya escort deneme bonusu bonus veren siteler deneme bonusu veren siteler deneme bonusu veren siteler deneme bonusu bonus veren siteler deneme bonusu bonus veren siteler deneme bonusu bonus veren siteler deneme bonusu deneme bonusu deneme bonusu veren siteler casino siteleri
homescontents
ftik@uinkhas.ac.id (0331) 487550

Dikenal Sering Tirakat, dari Puasa sampai Jualan Rujak

Home >Berita >Dikenal Sering Tirakat, dari Puasa sampai Jualan Rujak
Diposting : Selasa, 26 Jan 2021, 13:40:09 | Dilihat : 2525 kali
Dikenal Sering Tirakat, dari Puasa sampai Jualan Rujak


JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu cuaca terlihat cerah. Beberapa kandang ayam terlihat berbaris rapi di depan sebuah rumah kecil yang sangat sederhana di Desa Padasan, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso. Tak lama kemudian, terlihat seorang bapak bersama istrinya. Ia adalah Muarif dan Beng, pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal di rumah tersebut.

Biasanya mereka tiap hari ke sawah. Namun saat itu, keduanya seperti memutuskan libur sementara. Dengan berpakaian lumayan rapi, keduanya berencana melihat tayangan live streaming dari ponsel salah satu rekan putranya. “Iya, katanya Dasuki mau tes. Di Jember,” ujar Muarif, yang sangat antusias menantikan momen berharga anaknya itu.

Senin kemarin, anak tunggal Muarif dan Beng memang dijadwalkan mengikuti ujian promosi program doktor di Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Karena pandemi, keduanya tidak ikut ke lokasi ujian, namun menyimak proses sidang putranya itu melalui ponsel pintar. Selama menonton proses sidang secara virtual, pasutri ini merasa bangga bercampur haru. Sesekali, juga terlihat percaya tidak percaya bahwa anak semata wayangnya telah berhasil merampungkan masa studinya. Program doktor pula.

Padahal, jika diamati dari kondisi setiap harinya, pasutri ini hidup dengan perekonomian yang pas-pasan. Di rumahnya saja, tidak ada barang berharga. Yang lengkap hanya peralatan untuk ke sawah. Tak heran, saat melihat anaknya sudah sampai puncak studi doktor, perasaan haru campur bahagia benar-benar terlukis di raut wajah keduanya. “Padahal masa kecilnya, dia itu selalu bantu jualan rujak,” sahut Beng, ibunda Dasuki.

Ia mengisahkan bagaimana anaknya itu benar-benar merangkak dari bawah hingga sejauh ini. Dulunya, saat Dasuki masih duduk di bangku TK sampai SMP, pasutri ini bekerja sebagai penjual rujak. Saat itu, rumahnya memang dekat dengan sebuah sekolah dasar. Aktivitas jual rujak itu mereka lakukan tiap hari. “Sebelum berangkat sekolah, Dasuki biasa bantu angkut alat-alat ulek dan lainnya. Setelah selesai bantu, dia ke sekolah,” katanya.

Meski usia putranya masih kecil saat itu, tapi pemikirannya seperti telah dewasa. Sebab, tiap berangkat sekolah, ia hanya membawa bekal jajan permen atau manisan. “Dikasih uang jajan, tapi ia tabung. Katanya, biar SPP-nya nanti tidak minta ke saya,” kenang ibu 55 tahun itu.

Karena seringnya membantu ibunya menjual rujak, Dasuki juga sering membawa dagangan rujak itu ke tempatnya sekolah. Ini untuk membantu pemasukan keluarganya. Ia tidak malu. Lebih tepatnya, ia sudah paham bagaimana menempatkan rasa malu itu seharusnya.

Rutinitas membantu jual rujak itu bukan sekali dua kali dilakoni Dasuki. Kata ibunya, sejak dari SD sampai ia berlanjut ke SMP, tetap bantu jualan rujak. “Karena bapaknya itu memang suka tirakat. Bapaknya puasa Senin Kamis. Dasuki juga puasa. Puasa itu mulai akhir SD lanjut ke SMP,” bebernya.

Sambil melanjutkan menonton Dasuki di proses sidang, Beng melanjutkan ceritanya. Saat telah lulus SD dan masuk ke SMP, kebiasaan hidup tirakat itu belum buyar. Bahkan, kata dia, dulunya untuk masuk SMP, seragam saja ia tidak punya. Namun hal itu tak membuatnya minder. “Ada seragam waktu itu, tapi dikasih bekas tetangga,” ucapnya.

Kebiasaan hidup sederhana itu pun berlanjut saat Dasuki kecil masuk ke sebuah pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo, sekaligus menempuh pendidikan jenjang SMA. “Waktu di pondok, dia tidak mau dibawakan kasur. Pinginnya tidur pakai alas biasa saja,” timpal Muarif, menyela pembicaraan.

Sejak mondok itulah, Dasuki tidak bisa lagi membantu orang tuanya berjualan rujak. Namun, didikan ayahnya yang kerap tirakat, sepertinya menurun ke Dasuki, sampai ia lulus melanjutkan kuliah di IAIN Jember. “Sejak dia mondok, lalu kuliah, saya sudah mulai berhenti jual rujak. Tapi lebih sering ke sawah. Bertani,” lanjutnya.

Sementara itu, di saat kuliah, Dasuki memang dikenal beda. Kata mahasiswa seperjuangannya dulu, Dasuki adalah aktivis anti-kemapanan. Tak heran, banyak sebutan melekat untuknya. Seperti disebut kutu buku, filosof gondrong, sampai prof atau profesor.

Sejak ia sekolah sampai kuliah, buku sepertinya jadi kawan setia. Tak heran, selama sekolah saja, ia sudah langganan juara kelas. Masa kuliah, sosok Dasuki dan buku hampir mirip seperti dua sisi mata uang logam yang sulit dipisahkan.

Terakhir, saat menempuh program doktor dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam di Pascasarjana IAIN Jember, Dasuki bisa melaluinya dengan cukup mulus. Meski terkadang untuk SPP kuliahnya ia kerap ditalangi oleh rekan-rekan seperjuangannya.

Dalam disertasinya, Dasuki membawa judul Politik Kelembagaan Kiai pada Pengembangan Iklim Organisasi Inklusif di Pondok Pesantren Al Qodiri Jember dan Nurul Islam Jember. Ia pun lulus dengan predikat cum laude. “Semoga apa yang saya capai ini bisa menginspirasi adik-adik (di tempat kuliah, Red) saya. Dan mereka harus lebih hebat dari saya,” ucap Dasuki, seusai melangsungkan ujian disertasi, kemarin (25/1).

Kini, karirnya sebagai akademisi sudah hampir berada di puncak. Bahkan, tinggal selangkah lagi ia bisa menempuh ke guru besar atau profesor. Meski torehan dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember ini cukup mentereng, tapi Dasuki hari ini masih sama dengan Dasuki pada saat ia membantu ibunya jualan rujak dulu. Rajin tirakat dan suka membaca. Mungkin bedanya, dia tidak lagi jualan rujak.

Sumber: https://radarjember.jawapos.com/iklan/26/01/2021/dikenal-sering-tirakat-dari-puasa-sampai-jualan-rujak/

;