Kultum Ramadan 1447 H Eps. 7 Bersama Dr. H. Khotibul Umam - Menggapai Nilai-nilai Keistimewaan di Bulan Ramadan
Media Center FTIK - Dalam rangka penguatan karakter religiusitas sivitas akademika, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember kembali menyelenggarakan rangkaian Kultum Ramadan 1447 H. Memasuki episode ketujuh pada Rabu, 4 Maret 2026 (14 Ramadan 1447 H), kegiatan yang dipusatkan di Masjid Sunan Ampel ini menghadirkan Dr. H. Khotibul Umam, M.A., Wakil Dekan 1 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).
Acara yang dipandu oleh mahasiswa FTIK, Muhammad Ageng Redianto, ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan tertinggi universitas, termasuk Rektor, para Wakil Rektor, Kepala Biro, hingga para Dekan. Kehadiran unsur pimpinan ini tidak hanya sebagai bentuk partisipasi ritual, namun juga manifestasi dari leadership by example dalam mendukung visi universitas sebagai pusat keunggulan spiritual.
Struktur Temporal dan Metafisis Ramadan
Dalam ceramahnya yang bertajuk "Menggapai Nilai-nilai Keistimewaan di Bulan Ramadan", Dr. Khotibul Umam memaparkan struktur Ramadan ke dalam tiga fase eskatologis: Rahmat (kasih sayang), Magfirah (ampunan), dan Itqun minan nar (pembebasan dari api neraka). Beliau menekankan bahwa indikator keberhasilan fase pertama adalah adanya "akselerasi kemudahan" dalam beribadah yang dialami secara subjektif oleh setiap mukmin.
Integrasi Pemikiran Syekh Nawawi Al-Bantani
Landasan teoritis utama yang diangkat dalam kultum ini merujuk pada karya monumentalnya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani, khususnya kitab Qami'uth Thughyan yang membahas 77 cabang iman (Syu'abul Iman). Dr. Khotibul Umam menjelaskan bahwa iman bukanlah entitas statis, melainkan struktur dinamis yang mencakup aspek akidah, ibadah ritual, hingga etika sosial.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah "Hirarki Cinta Spiritual". Menurutnya, keimanan yang sempurna akan melahirkan rantai kausalitas: cinta kepada Allah akan membuahkan cinta pada Al-Qur'an, yang kemudian berlanjut pada cinta kepada Rasulullah, Sunnah, dan orientasi kehidupan akhirat. Beliau menegaskan adagium Ad-dunya mazra'atul akhirah, di mana posisi administratif maupun akademik di kampus harus dipandang sebagai instrumen untuk menanam benih kebaikan ukhrawi.
Institusionalisasi Kesalehan dan Budaya Kampus
Menariknya, Dr. Khotibul Umam juga menyoroti kebijakan administratif universitas terkait penggunaan sistem absensi fingerprint untuk memantau kehadiran jamaah dalam shalat berjamaah dan kultum. Beliau mengapresiasi kebijakan Rektor tersebut sebagai upaya institusionalisasi kesalehan yang bertujuan membentuk kedisiplinan kolektif.
"Masjid universitas harus menjadi pusat gravitasi kegiatan kampus. Peningkatan jumlah jamaah selama Ramadan ini diharapkan menjadi momentum transisi menuju budaya kerja yang berbasis nilai-nilai profetik secara berkelanjutan, bukan sekadar fenomena musiman," pungkasnya dalam sesi penutup.
Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengayaan intelektual dan spiritual bagi seluruh staf serta mahasiswa, sekaligus mempertegas identitas UIN KHAS Jember dalam mengintegrasikan keilmuan syariat dengan tata kelola institusi modern.
(Tim Data dan Informasi)



