Media Center FTIK - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam mengawal transformasi pendidikan Islam. Bertempat di Grand Padis Hotel Bondowoso, FTIK UIN KHAS Jember menggelar forum dialog akademik NGOPI (Ngobrol Pendidikan Agama Islam) bertema “Membentuk Generasi PTKI Unggul: Berkarakter Pesantren, Berwawasan Global, dan Responsif terhadap Zaman” pada Selasa, 22 September 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 250 peserta dari kalangan mahasiswa dan akademisi lintas kampus. Selain tuan rumah UIN KHAS Jember, forum ini menghadirkan peserta dari Institut Kiai Haji Abu Zairi, Institut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, STAI Al-Ustmani, Universitas At-Taqwa Bondowoso, Universitas Bondowoso, hingga Politeknik Negeri Jember. Kehadiran berbagai perwakilan institusi ini menjadikan NGOPI sebagai wahana strategis pertukaran gagasan serta memperluas jejaring akademik di kawasan Tapal Kuda.
Pentingnya Generasi Berakar Kuat dan Adaptif Teknologi
Saat membuka acara secara resmi, Dekan FTIK UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Abdul Mu’is, S.Ag., M.Si., menegaskan pentingnya melahirkan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memegang teguh identitas keislamannya di tengah derasnya arus perubahan.
"Generasi PTKI harus kuat akarnya, luas cakrawalanya, adaptif terhadap perubahan, dan nyata manfaatnya bagi masyarakat. Karakter pesantren harus berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, penguasaan teknologi, serta wawasan global agar mahasiswa mampu masuk ke ruang perubahan tanpa kehilangan identitas," tegas Prof. Abdul Mu'is.
Program NGOPI Bondowoso ini terlaksana atas kemitraan strategis dengan Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania. Kemitraan ini menjadi jembatan dalam mendorong peningkatan akses, mutu, dan literasi media sosial di lingkungan PTKI. Dalam pandangannya, digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga eksistensi serta daya saing pesantren di kancah global tanpa mengabaikan daya kritis dan etika.
Sesi Akademik: Dari Etika AI hingga Leadership Berbasis Nilai
Sesi dialog interaktif dipandu oleh dua akademisi pakar yang membedah tantangan PTKI dari sudut pandang kurikulum, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan manajemen tata kelola:
Sesi I: Pemanfaatan AI dan "Sanad Kebenaran Akademik" Disampaikan oleh Dr. Arini Sadiyah, M.Pd. (Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki). Ia memetakan tiga tantangan utama: lompatan teknologi AI, dinamika agama di ruang digital, dan persaingan global. Arini mencetuskan konsep "Sanad Kebenaran Akademik", yaitu menerjemahkan tradisi sanad pesantren ke dalam integritas riset, kejelasan sumber ilmu, dan etika ilmiah. Ia menekankan bahwa AI harus diposisikan sebagai akselerator pembelajaran, bukan pengganti nalar manusia, dengan tetap mengedepankan kompetensi 4C (Critical thinking, Creativity, Collaboration, Communication) serta adab.
Sesi II: Tata Kelola dan Leadership Berbasis Manajemen Pendidikan Islam Dipaparkan oleh Dr. Wafi Ali Hajjaj, M.Pd.I. Beliau menawarkan tiga pilar keunggulan PTKI: At-Ta'shil (karakter yang mengakar), Al-Infitah (wawasan terbuka/global), dan Al-Tajdid (kemampuan adaptif dan inovatif). Dalam konteks kepemimpinan, ia mengaitkan siklus manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dengan empat nilai spiritual: At-Tawazun (keseimbangan), Al-Itqan (profesionalisme), Al-Amanah (akuntabilitas), dan Al-Syura (musyawarah). Menurutnya, kepemimpinan pendidikan harus berlandaskan etika sebagai kompas utama.
Melalui penyelenggaraan forum ini, FTIK UIN KHAS Jember kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang religius, berintegritas, mahir beradaptasi dengan teknologi digital, serta siap berkontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat.
(Tim Data dan Informasi)