Media Center FTIK - Sebanyak 250 guru dan tenaga kependidikan (GTK) madrasah se-Kabupaten Situbondo berkumpul di Hotel Sansui, Situbondo, pada Rabu, 23 September 2026. Mereka hadir untuk mengikuti forum Ngobrol Pendidikan Agama Islam (NGOPI) Direktorat GTK Madrasah bertajuk “Pembelajaran Bermakna untuk Generasi yang Berdaya”, sebuah kolaborasi strategis antara FTIK UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Kementerian Agama, dan Komisi VIII DPR RI.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Pendma) Kantor Kemenag Kabupaten Situbondo, Dr. H. Mohammad Faris, S.Ag., M.Pd.I. Ia mengingatkan pentingnya fleksibilitas dan continuous learning bagi para pendidik.
"Madrasah membutuhkan guru yang tidak berhenti belajar. Tantangan pendidikan terus berubah, sehingga ruang kelas harus dijadikan tempat peserta didik bertumbuh, berpikir, menemukan makna, dan membangun masa depannya," ujar Mohammad Faris.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FTIK UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Abdul Mu'is, S.Ag., M.Si. Dalam pengarahannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan madrasah agar inovasi pendidikan tidak berhenti di atas kertas, melainkan berdampak langsung di ruang kelas.
"Pembelajaran bermakna bukan sekadar membuat peserta didik mengetahui sesuatu, tetapi bagaimana pengetahuan itu membentuk cara berpikir, bersikap, dan kemampuan mereka menghadapi kehidupan. Perguruan tinggi dan madrasah harus saling menguatkan agar lahir inovasi yang benar-benar kontekstual," tegas Prof. Abdul Mu'is.
DPR RI & Sesi 1: Menghubungkan Pembelajaran dengan Kehidupan Nyata
Sesi dialog interaktif menghadirkan Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, bersama praktisi pendidikan Yanti Raudatul Jannah, S.Pd.I., M.Pd.
Ina Ammania menyoroti pentingnya kebijakan pendidikan yang menyentuh akar rumput. Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas pendidik serta ruang kreativitas guru merupakan kunci utama peningkatan mutu madrasah. Forum NGOPI dipandang efektif dalam menjembatani ruang kebijakan nasional dengan realitas kebutuhan guru di lapangan.
Sementara itu, Yanti Raudatul Jannah mendorong repositioning peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi perancang pengalaman belajar.
"Pembelajaran menjadi bermakna ketika peserta didik memahami mengapa sesuatu dipelajari, mampu menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, lalu menggunakannya untuk berpikir dan bertindak," jelas Yanti.
Sesi 2: Pergeseran Paradigma Pengawasan dan Budaya Refleksi
Pada sesi berikutnya, pembahasan diperdalam bersama Pengawas Ahli Muda Jenjang Dasar (RA/MI) Kemenag Situbondo, Dedy Endar Dafrianto, S.Pd., M.MPd. Dedy menggarisbawahi perlunya mengubah pola pengawasan dari sekadar formalitas administratif menjadi pendampingan profesional yang konstruktif.
"Pengawasan seharusnya hadir untuk membantu guru bertumbuh. Yang dibangun bukan sekadar kepatuhan dokumen, melainkan keberanian memperbaiki proses belajar agar semakin relevan," tutur Dedy.
Ia juga mengajak para guru membudayakan refleksi diri setelah mengajar serta menegaskan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan teknologi rumit, melainkan bisa dimulai dari keberanian memberikan ruang berpikir dan mendengarkan peserta didik.
Seluruh rangkaian forum diakhiri dengan diskusi interaktif mengenai tata kelola kelas, dinamika generasi muda, dan pemanfaatan teknologi, dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
(Tim Data dan Informasi)